Hai kenalkan aku Aira. Siti Khumairah Abdullah lengkapnya. Aku bule loh, tapi gak bisa ngomong Bahasa Inggris, kenapa?. Karena aku asli Yogya. Ibuku asli suku Jawa nah darah keturunan bule yah dari Bapakku. Bapak yang gak pernah aku lihat bahkan photonya ajah Ibu gak punya. Bukan karena Ibu wanita murahan hingga akhirnya mempunyai anak bule, ceritanya sangat-sangat panjang. Itupun Ibu cerita setelah aku menginjak usia 14 tahun.
Selama 13 tahun yang kutahu Bapakku adalah Abdullah.
Selama 13 tahun yang kutahu Bapakku adalah Abdullah.
Bapak yang sangat penuh kasih sayang. Bapak yang sangat setia sama Ibu, sangat sederhana. Walau Bapak hanya berprofesi sebagai guru. Bapak sangat kaya hati tak pernah lelah memberi kasih sayang kepada keluarganya. Itu gambaran Bapak yang kuanggap Bapak kandungku. Walau secara fisik kami sangat jauh berbeda tapi bathin kami sangat dekat itu karena Bapak merawatku seperti anak kandungnya sendiri.
Ibuku Rahayu, Beliaupun sebelas duabelas sifatnya dengan Bapak. Ibu yang lemah lembut namun tetap wanita yang tegar. Buktinya walau Ibu mendapat cobaan mengandung anak yang tidak diinginkan, Beliau tetap melahirkanku. Merawat dan membesarkanku dengan kasih sayang. Mungkin karena sifat orang Jawa yang selalu nerimo.
Kami tinggal di pelosok Yogya, rumah peninggalan eyangku. Disini masyarakatnya sangat baik, bahkan ketika Ibu datang dengan permasalahannya, mereka bergotong royong menguatkan Ibu, memberi semangat. Tidak pernah mencemoh atau menggosip yang tidak-tidak kepada Ibu. Karena mereka tahu sedari kecil sifat Ibu seperti apa. Mereka bahkan seperti keluarga dalam suka dan duka. Aku sangat mencintai kampung kami. Kampung dengan sekumpulan orang-orang yang kaya hati dan kaya iman.
Di suatu pagi , hari minggu ketika aku libur sekolah. Berkumpulah Bapak dan Ibu yang kucintai.
“Ndok,ada beberapa hal yang mau Ibu ceritakan kepadamu” Kata Ibu sambil mengelus-elus wajahku, aku pun berbaring di pangkuannya.
Kutatap wajah mereka bergantian, dibenakku beribu-ribu pertanyaan.
Apa yang akan mereka jelaskan?
Akankah ini berhubungan dengan wajahku yang jauh berbeda dengan anak kebanyakan di kampung kami?
Ataukah aku sebetulnya hanya anak pungut karena aku lebih mirip dengan anak-anak turis yang ke candi Borobudur.
Tetapi senyumku sangat mirip dengan Ibu. Ku enyahkan pertanyaan-pertanyaan itu lebih baik kudengar penjelasan Ibu dan Bapak dengan seksama.
“Kamu anak yang periang Aira,” kata Bapak memulai pembicaraan
”Dan sekaranglah saatnya kamu mengetahui asal-usul wajahmu yang bule” lanjut Bapak.
Ibupun bercerita bahwa memang benar Bapak yang selama ini kupanggil Bapak bukanlah Ayah biologisku. Ketika Ibu berusia 18 tahun, kampung kami mengalami musim paceklik dan waktu itu kondisi Eyang sedang sakit keras, jadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hingga akhirnya Ibu bekerja di Jakarta, ikut dengan mbok Darmi adik Eyang. Mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Nah rumah majikan Ibu adalah seorang ekspatriat Mr. Hobel Andrew dan istrinya yang seorang pribumi Mrs. Lusy Andrew .
Ibu Lusy majikan yang sayang sama Ibu, itu dikarenakan dia tidak memiliki anak. Ibu diajarkan bahasa Inggris, diajarkan budaya-budaya luar. 1 tahun bekerja Ibu dan Mbok Darmi sangat bersyukur dan yang paling penting adalah Ibu bisa mengirim uang untuk biaya berobat Eyang dikampung.
Kemudian setelah setahun, datanglah keponakan Mr Hobel, yang berlibur selama 4 bulan di Jakarta. Dia kemudian jatuh hati dengan Ibu, akupun yakin, lelaki mana yang tidak terpesona dengan kecantikan Ibu. Wanita yang sangat ayu, kecantikan yang luar biasa sebagai wanita Indonesia.
Mrs. Lusy dan suaminya sangat menyetujui, tetapi Ibu menolak, itu dikarenakan cintanya yang sangat besar kepada pemuda sekampung Ibu. Dengan halus ibu menolak tawaran keponakan Mr.Hobel agar menerima cintanya.
“I’m so sorry Mr.Hobel, i Can’t merriage with your nephew” tolak ibuku
Mr.Hobelpun menghela nafas
Mrs.lusy sekali lagi berusaha membujuk Ibu “ kami sangat sayang kepadamu Rahayu, bisakah kamu memikirkannya lagi? please..i think Linclon loves you so much...”
Ibu tetap tegar dengan pendiriannya, tetapi karena Ibu menghormati keluarga Mr. Hobel akhirnya Ibu meminta waktu 1 bulan untuk coba mengenal Linclon. Ibu lakukan itu hanya sebagai rasa terima kasihnya kepada Mr. hobel dan Mrs Lusy . Ibu berfikir toh setelah itu ia akan kembali keyogya.
Tetapi Ibu tidak mengira bahwa Linclon yang dikenalnya sangat baik, sopan dan rupawan tega merenggut keperawanan Ibu. Waktu Mr.Hobel mengadakan pesta farewell, ternyata Linclon memasukan obat tidur kedalam minuman. Ibupun tertidur. Tanpa sepengetahuan Mrs. dan Mr. Andrew. Linconpun berhasil merenggut kegadisan Ibu. Dia sengaja seperti itu karena tidak tahu cara apa lagi agar Ibu bisa di milikinya.
Mr.Hobel dan Mrs. Lusy sangat menyesali tindakan keponakannya. Dalam kondisi terpukul, Ibu meminta pulang ke yogya. Ibu terus menangis, apa yang harus dikatakannya kepada keluarganya dan akankah Abdullah pemuda kampung yang dicintai Ibu masih mau menerima wanita yang telah ternoda. Mbok Darmipun menangis
“Gustiii , kenapa mbok gak bisa menjagamu, ndok-ndok...mbok gak ngira akan seperti ini kejadiannya..”mata mbok berkaca-kaca
Ibu menangis sesenggukan.
Mbokpun menceritakan semuanya kepada keluarga di kampung. Walau terluka dengan kejadian yang menimpa putrinya. Eyang tetap bijak menyikapi semuanya. Pasrah menerima ujian pedih dari sang Khalik
Sejak saat itu Ibu benci berbahasa Inggris. Ibu benci dengan semua yang berbau-bau kebudayaan luar. Dan yang terparah ternyata pemerkosaan itu membuat Ibu mengandung, yah Ibu mengandungku anak yang sempat tidak di inginkan.
“Ndok, jangan pernah berfikir bahwa anak yang kau kandung adalah malapetaka. Gusti Allah selalu menguji hamba-hambaNya. Yang tidak baik menurut kita, tetapi di mata Allah itu ternyata yang terbaik. Anakmu itu anugerah, jalani ndok dengan keikhlasan” Eyang menasihati Ibu
Ketika Ibu pasrah dengan semua masalah yang di hadapinya. Ibu malah mendapat support dari masyarakat kampung.Tidak henti-hentinya tetangga rumah menghibur, bahkan Ibu seperti di perlakukan dengan sangat baik. Di buatkan rujak, dibuatkan makanan-makanan kesukaan ibu.
Dan ternyata pemuda yang Ibu cintai bersedia menjadi suaminya dan menjadi Bapakku.
****************************************************************
“Gustiiii..bocah Londo..bocah londo!!!!!” teriak bidan di kampung kami, seluruh kampung menanti kedatanganku.Tak henti-hentinya mereka melihatku dengan takjub. Bayi mungil berambut coklat kemerahan,sangat besar dan sangat putih. Kontras sekali dengan bayi-bayi yang terlahir di kampung kami .
Setelah aku lahir Bapak menikahi Ibu secara resmi, lengkaplah kebahagian Ibu. Walau tetap saja Ibu benci akan bahasa Inggris. Itulah mengapa aku hanya bisa berbahasa Indonesia dan Jawa.
Aku tumbuh besar menjadi anak yang periang bahkan teman-temanku kebanyakan lelaki, aku sering bermain perang lumpur di sawah, memanjat pohon mangga. Tetapi kulitku tidak menghitam seperti layaknya anak di kampung, yang ada kulitku berwarna merah, coklat tidak jelas.
Meskipun secara fisik aku orang peranakan tetapi jiwaku asli orang kampung, seperti halnya anak-anak disini. Dan ibu pasti hanya tersenyum bila aku menanyakan hal itu.
“Bu..kok rambutku warna coklat siy?gak kaya Bapak atau Ibu hitam? ” tanyaku ingin tahu
Lagi-lagi ibu menjawab dengan senyuman...”adik kamu juga rambutnya warna coklat kok”
“Lah, Bayu kan diwarnain pake obat bu?..Elakku
Akupun melihat adikku yang sedang tertidur,adik yang beda 2 tahun dariku. Adikku sangat mirip dengan Bapak. Dulu rambutnya warna hitam. Tapi karena ikut-ikutan dengan tren pewarnaan rambut, anak sekampung membeli obat rambut yang notabenenya untuk pengawet ikan. Jadinya warna rambut adikku pirang kebule-bulean yang dekil.
Aku sering berkeliling sepeda mengitari sawah di kampung kami sewaktu kecil. Dan ketika aku kelas 6 SD kami mengunjungi Candi Borobudur, bersama Bapak dan adikku .
Aku melihat orang-orang yang mirip denganku, warna kulit, hidung serta rambut. Aku sering terheran-heran.
Tetapi hal itu tidak membuat aku di bedakan, aku tetap mendapat kasih sayang keluargaku, akupun mendapat teman-teman yang sangat baik.
*****************************************************************
Mendengar penjelasan Ibu dan Bapak aku menangis. Betapa mereka orang-orang yang kuat menerima cobaan.Aku salut dengan Bapak,yang tetap mencintai Ibu apa adanya.Tidak membenci ibu atau menjauhinya.
“Aira anakku,masihkah kau tetap menganggap Bapak ini Bapakmu?” tanya Bapak dengan mata berkaca-kaca
“Iya Bapak..,,,”aku menangis sesenggukan. Bapak memelukku.
Ibu lega,aku menerima kenyataan itu dengan ikhlas.
**************************************************************
SMP aku lewati dengan suka cita,ketika aku akan beranjak melanjutkan sekolah ternyata Bapak mendapat pengangkatan dan surat keputusan menyatakan Bapak harus mengajar dan melanjutkan studinya di Ibu Kota. Karena Bapak di anggap orang yang pintar,istilahnya selama 3 tahun di Jakarta setelah itu kembali lagi ke kampung untuk mengamalkannya.
Ibu dengan wajah yang seperti ketakutan menolak mentah-mentah kepindahan Bapak,bahkan hampir menangis bila mengingat kata-kata Jakarta. kasihan Ibu,tapi Bapakpun mau tidak mau harus pindah.Kami semua merenung 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar,Ibupun dilematis,ketakutan terbesar dalam hidupnya masih terus hidup di diri Ibu
“Baiklah bu, biar Bapak saja yang di Jakarta, nanti setiap bulan atau ada waktu Bapak bakal pulang ” Kata Bapak seminggu sebelum kepindahan
Ibu terdiam,aku sangat sedih bila jauh dari Bapak orang yang kusayangi.Tapi mau tidak mau kami melepas kepergiannya yang sementara.
“Jaga adik dan Ibu yah ndok”...nasihat Bapak ketika akan berangkat. kami semua berkumpul di stasiun Yogyakarta.
Ibu dengan berat hati melepas pelukan Bapak. Kereta itupun membawa Bapak ke Jakarta.I bukota Indonesia
“Sampai ketemu Bapak..”ucapku lirih
****************************************************************
Kini aku berusia 16 tahun, dan petumbuhan badanku tumbuh sangat cepat, sampai-sampai teman-teman wanitaku sampai berjinjit bila ingin mendandaniku. Aku sering dapat juara 1 bila adu lari, bahkan lawanku laki-laki loh, itu karena langkahku besar-besar heheheh.
Bapak suka pulang 1 bulan sekali. Bapak kelihatan kurus. Ibu juga suka mikirin Bapak bilangnya sangat rindu. Akhirnya setelah Bapak setahun di Jakarta , Ibu berniat menyusul dan akan menghadapi ketakutan-ketakutanya. Kami sekeluarga pindah, aku merasa sangat gugup.
Bagaimana kehidupan disana?apa perlakuan teman-teman baruku sama sayangnya dengan teman-teman disini? .
Lain halnya dengan adikku, Bayu . Ia begitu antusias menghadapi kepindahan kami.
“Mbak yu” panggilnya..
“Kita bakal tinggal di Jakarta, JAKARTA loh mba...”
Aku ikut tertawa dengan kepolosan Bayu. Ia begitu senang tanpa tahu apa yang akan terjadi disana
******************************************************************
Kami tinggal di rumah susun yang begitu padat penduduknya. Bapak memasukanku ke sekolah umum Negeri di daerah Jakarta Barat. Bayupun di masukan ke SMP Negeri tidak jauh dari sekolahku.
Ketika masa-masa kami baru pindah Ibu masih saja di hantui mimpi buruk. Saat menginjakkan kaki di stasiun Jakarta Ibu langsung memegang erat tangan Bapak. Sedikit demi sedikit Ibu mulai terbiasa disini. Tapi yang masih belum hilang yaitu ketika sedang jalan-jalan kami menemukan laki-laki bule, Ibu bisa histeris menangis. Dengan sabar Bapak memeluk Ibu, dan tugas kami yaitu meminta maaf ke orang-orang sekitar dan ke bule yang bingung dengan yang dilihatnya.
“Mbak..mbak” Bisik Bayu di telingaku ketika kami sedang menenangkan Ibu
“Gimana kalau kita tinggal di luar negeri yang mukanya banyak seperti mbak yah?”tanya adikku polos
“ Walah,mimpi kamu de”aku tersenyum geli
“Wah mba gak ada yang ga mungkin!”debat adikku
“Bisa saja mba di jemput sama Bapak kandung mba yang londo, hayo kalau kaya gitu gimana”? lanjut Bayu.
Akupun terdiam,tidak ada di dalam keinginanku terbersit bertemu dengan Bapak kandungku,buatku itu tidak perlu ku fikirkan. Aku pun menjawab pertanyaannya
“Kalau ketemu?.....”
“Mba mau kabur” jawabku sembari menjulurkan lidahku
Adiku malah terkekeh
Aku menahan nafas, fuih. Langkahku menuju ruangan kelas. Bersama Bapak kepala sekolahku yang baru, Pak Rahul Sitohang namanya. Yah inilah babak baru kehidupanku.Aku akan bersekolah disini, dan ini hari pertamaku bersekolah. Pertama bertemu dengan pak Sitohang bersama Bapak waktu itu, Beliau bertanya padaku
”Hello, Siti..How are you? ”tanyanya . Kamipun tersenyum, wah kalau di anter ibuku bisa berabe nih urusannya.
”Baik pak” jawabku dengan logat Jawa yang kental. dan kulihat reaksi pak Sitohang terdiam. Mungkin sedikit berfikir.
*******************************************************************
“Aku siti khumairah Abdullah, panggil saja Aira”
“Aku pindahan dari Yogya”
Seluruh kelas menatapku bagai alien, mereka mungkin berfikir
Ngapain ada bule nyasar
Aku ditempatkan di kelas II-A ,aku duduk dengan seorang anak perempuan yang mungil namanya Sriwati, dia sangat pendiam. Dan selalu saja gugup.
”hhhmmm...A..A..Aira, kamu asli mana?” tanyanya takut-takut
“Asli yogya” jawabku ramah
Tapi walau Sri anak yang pendiam, ia sangat baik kepadaku. Aku senang berteman dengannya.
Tak henti-hentinya satu sekolah berspekulasi dengan kedatanganku. Dari anak kelas satu sampai tiga ramai membicarakanku.
“Bule kere kali yah”
“Iyah ngapain juga, bule sekolah disini?”
“Atau jangan-jangan dia mau memasukan doktrin kristenisasi”
“Hus gak boleh seudzon!”
“Agama dia kan Islam loh, malah gue sering liat dia selalu shalat di musolah sekolah”
“Eh tapi pas pelajaran bahasa Inggris, kok dia gak bisa yah?”
“Bule kok Logatnya Jawa banget”???
Aku baru tahu, kalau ternyata sekolah di Jakarta sangat aneh. Tidak seperti di kampungku, dan teman-temannya juga beragam.Tapi demi Bapak aku mau coba beradaptasi dengan keadaan ini. Aku maklum dengan perbedaan fisikku, maka dari itu aku gak mau musingin rumor-rumor yang ada.
Suatu ketika ada kejadian yang lucu dengan sekolah kami, di kelas II-G ada beberapa anak yang tidak menyenangkan buatku,karena sikap mereka menyebalkan.Gaya mereka sangat kekotaan, mereka sombong, padahal otaknya biasa saja. Habis berteman dengan mereka Jaka sembung bawa bakpia hehehe.
Pagi hari mereka berempat datang dengan rambut yang super eksentrik, full colour. Yah rambut mereka berwarna pirang. Sudah jelas mereka langsung terkena hukuman,k arena peraturannya memang tidak boleh. Mereka beralasan kenapa aku boleh.Yah sebetulnya aku juga ingin mempunyai rambut hitam yang legam seperti Ibu, tetapi ternyata aku malah di anugerahi rambut ikal coklat kemerahan. Jadi pak kepala sekolah memberi perintah peraturan itu tidak berlaku untukku seorang.
Ada yang lebih ramai ketika aku jatuh hati pada seorang pemuda di kelas lain, dia adalah Sukro Hamid. Pemuda Madiun yang sangat rendah hati. Sederhana seperti Bapak. Inilah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dulu siy di kampung yah cuma cinta-cinta monyet dengan teman sepermainan.
Pada diri Sukrolah kutemukan sifat-sifat sahabatku di kampung.
****************************************************************
“Gila lo ra?Mimpi apa gue!!!! lo suka sukro..SUKRO BO!!!”
“Ya ampun ra, banyak kakak kelas kita yang keren-keren ngantri naksir lo”
“Eh lo malah kepincut Sukro, makhluk aneh di sekolah. Namanya ajah udah gak keren, kayak kacang “
Aku mendelik sadis ke sahabat kelasku Fika dan Lila. Sri tersenyum geli, dia tidak menghujatku malah bersedia membantuku itu karena Sukro masih saudara jauhnya, dan rumah mereka berdekatan.
Sepengetahuan Sri belum ada cewek yang dekat dengan Sukro. Fika dan Lila menyahut dengan kompak
”Ya iyalah...”
Kami bersahabat sangat dekat walaupun banyak perbedaan pada diri kami masing-masing,Fika dan lila sama-sama anak yang suka ceplas ceplos. Tapi sikap mereka sangat tulus membantu keluguanku akan kota Jakarta. Membuat pola pikirku agak-agak modern tapi masih pada batas-batas yang positif.
Lila selalu merubah penampilanku agar tidak kampungan. Tetapi tetap saja hal yang aku suka yaitu mengenakan daster batik khas Yogya. Ketika mereka pertama kali bertemu dengan Ibuku, mereka sempat terheran-heran betapa kehidupanku sangat sederhana sekali. Ibuku sangat ramah kepada sahabat-sahabatku. Sahabatku merasa nyaman, karena walau aku bule tapi sangat pribumi. Jadi mereka merasa satu hati.
Akupun jauh dari kesan mewah. Bila sedang jalan-jalan ke pusat perbelanjaan menemani mereka. Bajuku pasti itu-itu saja. Tapi tetap saja mereka tak bosan-bosannya mengaggumi kulitku yang putih, mengaggumi wajahku yang Indo. Rambutku yang panjang sebahu, bergelombang berwarna coklat. Mereka selalu menyebutku Hermoine Granger,kata mereka sangat mirip. Dan mereka merasa bahagia bisa punya teman bule. Cuma sayang gak bisa bahasa Inggris. Malah Sri yang sangat jago. Debat Se SMA Jakarta saja dia juaranya.Tapi bila kita kerja kelompok di rumahku, Sri kularang berbicara keras-keras bahasa Inggris.
“Salam ajah buat Sukro yah Sri” Pintaku setelah usai belajar
Sri mengacungkan jempol, Fika dan Lila komat-kamit seperti orang berdoa.
“Egh..pingsan deh seluruh Cowok di sekolah kita” Erang Lila
“Gak La,,,”timpal Fika
”Yang ada Pemakaman massal ” lanjutnya dengan ekspresi melotot
Lila tertawa terbahak-bahak
Aku meninju pelan bahu dua sahabatku yang masih kontra dengan keputusanku menggebet Sukro.
Mereka berdua tetap tidak menyerah untuk mengagalkan cintaku pada Sukro. Ada-ada saja ulah mereka. Dari mengenaliku cowok lain di sekolah yang menurut mereka super ganteng. Tetapi aku tetap ogah sama muka-muka yang kekotaan. Mungkin sudah seleraku seperti itu, hmm tidak ada yang salah kan.
“Tapi gue Heran deh, Sukro itu Stupid apa idiot siy?" tanya Fika dengan pilihan yang sadis
“Maksut kamu Fik ?"Tanyaku dengan Sabar walau dalam hati gak terima Sukro di kasih dua option yang sama-sama jelek
“Lo cewek paling tenar tahun ini, dari Kepsek, Guru-guru, Kaka dan adik kelas Ramai-ramai beritain lo. Istilahnya hal kecil kayak ngomong Jawa jadi tren banget. Apalagi gaya baju lo kalo acara sekolah pake dress batik, wah besok langsung deh rapat-rapat pake batik. Gaya rambut lo dipotong,1 hari kemudian cewek-cewek ikut potongan lo, Kriting ikalah, kuncir kuda gaya lo lah.
SITI KHUMAIRAH ABDULLAH STUDENTS OF THE YEAR. Tapi si kutu kupret Sukro flat alias cuek-cuek bebek nungging ajah tuh anak. Nanggepin kek sinyal-sinyal rasa suka lo,atau ngomong apa kek..greget deh gue....” jelas Fika berapi-rapi
“Lah yang pengen jadi ceweknya siapa siy?”Tanyaku dengan muka malaikat
“Yang pasti bukan gue” timpal Lila
“Tenang ajah ra, gue masih normal kok ”Fika memperjelas
Lagi-lagi aku cuma mencubit kedua pipi sahabatku yang reseh, habis aku sayang mereka. Aku gak bisa marah sama sifat mereka. Wajar juga sebagai teman saling menasihati apalagi memberi masukan agar kita tidak salah memilih.
Tapi aku tetap anak yang keras kepala. Menurutku Sukro beda dengan pemuda-pemuda lain yang selalu mencari perhatianku. Sukro selalu tampil apa adanya, jauh dari hingar bingar pemuda kota yang sedang mencari jati diri.Apalagi dia anak musolahan banget wajar karena dia adalah ketua Rohis. Bapak selalu menasihati untuk aku mencari pria yang imannya sangat kuat, wah cocok sekali dengan Sukro.
Buatku fisik urusan kedua atau ketiga. Asal kuat ibadah kepada sang khalik buatku itu yang penting.Tapi betul kata Fika kenapa Sukro lurus-lurus saja. Dingin menanggapi salam dan perhatian aku sama dia. Bila bertemu satu buspun Sukro cuma senyum. Kami memang beda kelas.Tapi kurang apa lagi Sri membujuk Sukro untuk dekat denganku.
Hmm aku siy gak neko-neko,hanya bisa bersama dia aja cukup. Gak perlu tuh malam mingguan atau berdua-duan soalnya kata eyang khan itu berbahaya.
Tapi gak ada tanda-tanda Sukro bales perasaan aku deh. Fuih aku melangkah dengan gontai, gak tau apa salah ku yah? . Sri dengan muka menyesal meminta maaf padaku.
“Aira, you are beautiful girl. Aku fikir Sukro Cuma merasa ini waktu yang kurang tepat berdekatan"
“Tugas kita sekarang adalah belajar,berbakti,mengejar impian kita”.
“Memang mimpimu apa Aira?”
Hmmm...aku berfikir keras tak kusangkah Sri akan menanyakan hal yang sederhana tapi sulit ku jawab.Yah selama ini aku belum mengetahui apa cita-cita dan mimpiku?. Selama ini hidupku begitu indah. Bisa hidup bersama Ibu,bapak, dan Bayu tanpa gesekan konflik. Bahagia bisa bersama mereka. Hidupun berkecukupan. Walau tidak mewah tapi aku bahagia. Jadi apa mimpiku???...mungkin aku bermimpi agar bisa terus seperti ini dan.....
Dan sedikit keinginan mengetahui Bapak kandungku...
*********************************************************************************
Namun sepertinya sangat tidak pantas bila itu kutanyakan kepada Bapak apalagi Ibu. Itu sama saja akan mengorek luka lama Ibu. Aku tak mau membuatnya bersedih.
Jadi kuputuskan hanya menyimpannya di relung hati yang paling dalam.
Sewaktu libur sekolah semester kami sekeluarga pulang. Sedikit merasa gundah akupun bersepeda ke kampung sebelah mengunjungi Adik eyang. Eyang Darmi. Usianya ternyata sudah hampir 80 tahun namun fisiknya jangan ditanya. Eyang Darmi sosok wanita kampung yang tangguh. Walau keriput melahap habis kecantikannya. Mata eyang Darmi masih menyisakan sinar kehidupan yang kokoh.
“Eyangggg...panggilku ketika eyang Darmi sedang membawa kayu bakar menuju ke rumahnya yang mungil.
“Ndoo.. “ panggilnya pelan kemudian menatapku dengan bias mata berkaca-kaca, aku tahu pasti eyang Darmi merindukanku...
Ku kecup punggung tangannya dan memeluknya.
Ah semakin kecil saja eyang Darmi dipelukanku Atau memang tubuhku yang berkembang pesat
******************************************************************************************************
Sosok eyang putri kutemukan pada diri eyang Darmi. Karena memang Ibunya Ibu sudah lama tiada jauh sebelum aku terlahir. Jadi aku suka sekali menganggap adiknya eyang ini sebagai pengganti neneku. Walau eyang Darmi punya beberapa cucu. Aku termasuk yang paling disayanginya. Sewaktu kecil aku selalu ingin tidur dengannya sembari meminta eyang Darmi menarik-narik rambutku perlahan untuk mencari telur kutu dan kemudian aku jatuh tertidur.
Aku suka sekali
“Ndoo...sudah makan?” Tanya eyang Darmi yang sesekali melipat kain dan bajunya
“Sudah eyang...sudah ndak usah repot-repot” pintaku saat Eyang bergegas membuatkanku minum .
Aku rindu sekali suasana rumah eyang Darmi. Sunyi sepi namun sahdu, Ah padahal baru 6 bulan.
“Pasti lik marwan sedang tandur yah eyang?”
Eyang Darmi mengangguk
“Yangggg...hmmm..aku sedikit ragu untuk langsung menanyakanya
“Ada apa ndook...Eyang bertanya seraya duduk disampingku
Kuberanikan diri untuk menanyakannya
“Eyang...bagaimana rupa Bapak Linclon?
Sejenak kurasakan keterkejutan dari mata eyang Darmi. Mungkin ia takkan menyangkah aku akan menanyakan perihal ayah biologisku
Hmmm...Kulihat eyang sedikit berfikir.
Aku tahu ingatan eyang Darmi setajam elang. Saat ini pasti eyang sedang mengumpulkan potongan-potongan memori sewaktu ia bekerja mengajak ibuku 16 tahun silam.
“Ibu Bapakmu sudah menceritakan semuanya ndok? Tanya Eyang Darmi
Aku mengangguk
Kemudian Eyang menghela nafas panjang. Aku sedikit merasa bersalah. Seperti Eyang akan memulai sesuatu yang berat
Iapun mulai berbicara dengan suara hampir berbisik.
“Bila mengingat kejadian itu Eyang tak kuasa menahan sakit ndo. Bagaimanapun eyang jualah yang salah karena telah lalai menjaga Ibumu. Walau pada akhirnya kami mensyukuri kehadiranmu.’’
“Mungkin memang itulah jalan kau ada didunia ini ...” Ungkap Eyang Darmi seraya menatap mataku dengan pelupuk yang mulai berkaca-kaca
Ia melanjutkan dengan tetap bersuara lirih
“Dan kami bisa memilikimu seutuhnya.Walau kami menutup rapat-rapat perihal kejadian itu lambat laun kaupun pasti bertanya-tanya akan dirimu, akan perbedaan fisikmu dan semua yang terjadi padamu”.
“Ibumu adalah wanita yang sangat berani bisa menceritakan semuanya. Walau itu artinya mengorek luka hatinya sendiri. Luka yang sangat membuatnya terpuruk sebagai wanita”.
“Dan Bapakmu, Abdullah. Dia lelaki yang luar biasa. Malah bisa menyayangimu dengan sangat sempurna”.
“Tidak lupa kakaku, Eyang kakungmu ndok. Dia Bapak yang sangat bijak. Kemarahan bukanlah jalan yang terbaik. Pada saat itu Ia menerimamu. Menjadi cucunya”
“Warga disinipun sama hebatnya. Sangat sedikit lingkungan yang menerima aib tersebut. Mungkin karena Eyang kakungmu orang yang baik, Ibumu, semuanya. Mereka malah menjadi menyayangimu dan kaulah hadiah terindah dikampung kami”
Kemudian Eyang Darmi beranjak dari dipan yang kami duduki. Ia menuju lemarinya yang ringkih. sama tuanya. Ia mengambil kotak disudut pojok lemarinya. Sekotak kaleng bekas biskuit. Sepertinya itu harta karun eyang Darmi
“Eyang kakungmu selalu memintaku untuk menyimpannya dan kelak kau wajib memilikinya. Benda ini tidak boleh diketahui Ibu Bapakmu. Karena kami merahasiakannya. Untuk kebaikan kita bersama. Tadinya akan eyang beri setelah kau berusia 20 tahun ndo”.
Eyang Darmi membuka kotak dipangkuannya. Kotak hitam usang yg sudah agak penyok disisi kananya. Isi didalamnya penuh kertas yang menguning, Perhiasan, dan beberapa lembar foto
“Ndoo ini milikmu. Eyang sudah cukup menjaga ini. Sekarang kau berhak memilikinya. Namun eyang mengingatkan agar jangan Ibu bapakmu mengetahui perihal ini. Kau tahu sendiri ndo ini adalah luka lama Ibumu dan juga luka Bapakmu. Jangan sampai mereka mengetahuinya” eyang Darmi sedikit meremas tanganku
“Memang ini apa Eyang?”
“Itu adalah benda pemberian Bu Lusy dan suaminya. Dan sedikit kenangan dari Ayah kandungmu.
Deg aku merasa linu dengan kata-kata ayah kandungku.
“Mereka ingin memilikimu ndoo...”
****************************************************************************************************
Perkataan eyang Darmi masih berputar bak 9 planet mengitari tata surya.
Padahal ini sudah tengah malam . Aku tidak berani menyalakan lampu pasti akan ketahuan aku belum tidur. Mengendap-endap rasanya juga sulit. Aku takut bila membuka kaleng ini di rumah. Apalagi ada Bapak dan Ibu. Rasanya jantung ini mau copot. Aku tak mau gegabah sesuai janjiku kepada eyang Darmi
Ini adalah rahasia
3 hari sebelum masa liburan usai aku menemukan tempat yang cocok. letaknya bisa kutempuh 20 menit menggunakan sepeda kumbangku. Aku beralasan ingin mengunjungi Bambang sahabatku dikampung sebelah. Aku tahu tidak baik berbohong kepada ibu.
Ibu pasti tahu perubahanku yang akhir-akhir ini tidak bernafsu makan.Tapi untungnya ia hanya menganggap aku sedang bersedih akan kembali meninggalkan teman dan sahabatku dikampung.
Entahlah bukan aku tidak bahagia namun memang kusadari hatiku sedikit gunda gulana memikirkan Ayah biologisku.Entah perasaan itu seakan menarik keingin tahuaan akan rupa, fisik juga kabar berita ayah biologisku. Orang yang tega kepada Ibu.
Benarkah ia pernah ingin memilikiku???
Akhirnya sampai juga aku di bukit yang banyak pohon karet di sebrang sana. Sebelah kananya pun banyak sawah yang hijau. Tempat ini aku rasa yang paling cocok karena disini bukan tempat lalu lalang warga di kampungku.
Ku buka perlahan kotak kaleng yang Eyang berikan padaku. Ini adalah harta karunku. Aku akan menemukan potongan diriku.
Sebentar ku tengok kanan kiri memastikan betul disini tidak ada yang melihat. Setelah yakin kembali ku konsentrasikan fikiranku kedalam kotak tersebut yang sudah terbuka.
Dadaku berdegub agak kencang.
Benda yang teratas adalah tumpukan foto hitam putih beberapa orang yang asing. Dan sepasang lelaki bule dan perempuan muda nan lugu. Itu Ibu pekikku.
Ibu begitu cantik. Rambut hitamnya yang panjang ia gerai begitu saja. Tidak tampak bahwa ia hanya pembantu. Disebelahnya adalah pemuda yang tinggi asing tampak tersenyum walau matanya tajam seperti elang.Yah dia rupawan dengan rambutnya yang ikal. Tubuhnya atletis. Pasti dia banyak di kagumi wanita di negaranya. Wajahnya mirip ketika aku bercermin.
Apakah ia Linclon?
Lalu aku melihat foto yang satu lagi. Ibu dirangkul oleh wanita yang agak pendek darinya. Kira-kira tingginya sama dengan Eyang Darmi agak gemuk tapi sangat cantik
Kemudian aku juga melihat yang kuperkirakan itu pasti Mr. Andew Hobel. Pria gendut dengan rambut agak botak selayaknya profesor.
Sepertinya ini foto saat mereka diajak jalan ke Taman Mini
Perhatianku berpaling dari tumpukan surat dengan kertas yang hampir menguning
Surat itu ditulis oleh Bu Lusy kebanyakan menanyakan kabar Ibu
Setelah pemerkosaan itu Bu lusypun sama terlukanya. Karena ia juga sudah mengganggap Ibu adalah bagian keluarganya
Suaminya Mr.Hobel setelah mengetahui kabar kehamilan ibu ingin sekali memilikiku. Yang secara tidak lansung ada darahnya mengalir didiriku.
Mereka fikir proses itu akan tercapai Namun ternyata dengan bijaknya Almarhum eyang menolak.
Karena bagaimanapun aku adalah cucunya. Dan Ibu sudah mau menerima kehadiranku.
Walau sedkit kecewa dengan keputusan itu. Bu Lusy dan suaminya beberapa kali tetap mengunjungiku tanpa sepengetahuan Ibu pastinya.
Dan terakhir Linclon datang melihatku saat berusia 2 tahun. Itupun dengan berhati-hati. Tanpa curiga Ibu memberikan aku seharian bersama Eyang Darmi. bersama Almarhum Eyang kakung mereka mempertemukan Linclon yang dengan bahasa asing meminta maaf kepada Eyang. Eyang telah menerima permintaan maaf itu ia melihat ketulusan Linclon saat menggendong dan memelukku.
Dan Linclon memberikankan kalung liontin hati dengan tulisan My daugther.
Eyang Darmi bercerita bahwa Linclon masih berusia 22 tahun. Memang dia pribadi yang cenderung pemikir sama dengan pamanya Mr. Hobel
Libur kuliah dilondon Lincon memang sudah akrab dengan Indonesia Jakarta
Kulihat beberapa alamat di surat itu. Alamat rumah Mr. Hobel
Kini kuputuskan akan menghampiri takdirku. yah aku ingin bertemu langsung dengan Ayah linclon. Entah nanti bagaimana. Aku hanya ingin sekali memeluknya. Hanya itu..tidak aneh bukan?
*******************************************************************************************************
Memasuki suasana dijakarta. Aku sudah kembali periang seperti dahulu. Aku sudah sedikit menyingkap takbirku. Lagipula aku tak ingin membuat ayah ibu khawatir.
"Airaaaa “ Teriak Fika di gerbang sekolah.. Ia memelukku
“Aduuuh kangen sekali sama kamu”
Aku tertawa...
”Gimana di Kampung??...aturan kamu tuh pulang ke London” Lanjut Fika dengan senyum menggoda
Deg aku sedikit terkaget dan Fika merasakan kesalahanya berbicara buru-buru ia meralat
"Maksut gw gmn di yogyaaa???Seru?"
“Yah begitu..aku bertemu sahabat kecilku”
Dikelas sudah ada Lila dan Sri. Wajah mereka sama berserinya saat bertemu denganku kembali padahal hanya 2 minggu terpisah.
Kamipun kembali kedalam suasana kelas yang penuh suka cita
****************************************************************************************************
Di hari minggu pagi aku berniat untuk mengunjungi alamat rumah Mr. Hobel aku berharap muda-mudahan mereka masih ada disana. Dengan mengenakan jins dan sweater coklat, kukenakan pula kalung hati pemberian ayah Linclon . Aku berpamitan kepada Ibu. Kukatakan mungkin akan sampai sore sambil kukecup tanganya. Ibuku tersenyum tanpa curiga.
“Hati-hati ndoo”
Dengan menggunakan Bus umum jurusan Mampang. Sampailah aku dijalan Menteng besar yang setelah kutanya kebeberapa orang, aku harus terus berjalan lurus dan setelah ada tikungan aku harus berbelok ke kiri.Untuk area perumahan ini sudah tidak ada angkutan umum yang masuk. Matahari sudah agak meninggi karena keterbatasan dana juga aku tak bisa memakai jasa Ojek motor. Jadi kuputuskan untuk mencarinya sendiri dengan kedua kakiku.
Setelah melalui tahapan jalan yang orang tunnjukan. sampailah aku dirumah dengan alamat yang persis sama yang diberi sama Eyang Darmi. Kembali jantungku berdetak.
Hufff kutarik nafas untuk coba menenangkan diri. Sudah terbayang di benakku Mrs. Lusy yang berdiri dihalaman rumahnya seperti sosok di foto dan mungkin sedikit beruban . Lalu ia akan berteriak memanggil suaminya Mr. Hobel. Mereka akan berbanjir air mata memelukku.
Kupencet bell rumah disisi gerbang setinggi 1,5 meter. Sedikit menyembul dedaunan mahoni yan rindang.Rumah yang asri dan besar. Disinikah Ibuku pernah tinggal? Tidak lama ada seseorng yang membuka pintu kecil disebelah kanan gerbang.
Tepat ditempatku berdiri memencet Bell
Muncul sosok wanita kurus berbaju agak lusuh rambutnya sebahu tapi dia kuncir. Usianya kira-kira 20 tahun. Sepertinya ini mbak yang bantu-bantu rumah Bu lusy. Aku menerka demikian.
Mbak yang dihadapanku tidak membuka gerbangnya secara lebar. hanya cukup untuk tubuhnya, sisanya ia tutup. Jadi ia hanya berdiri seraya memegang pintu gerbangnya dan sengaja pula menutup pandangan rumah dengan tubuhnya yang mungil. Wajahnya sedikit curiga
Buru-buru aku tersenyum dan langsung menanyakanya
“Mba..maaf apa benar ini menteng besar no 50?” untuk memastikan bahwa benar ini alamat Mr. Hobel
Ia hanya mengangguk pelan.
“Hmmm” lanjutku
“Dan apa benar ini kediaman Mr. Hobel?” tanya ku penuh harap. Yah aku berharap mbak ini mengangguk sekali lagi
Namun mbak itu hanya mengernyit. Seakan tidak mengerti maksut pertanyaanku
”Iya mbak...Mr. Hobel dan istrinya Lusy”
Ia malah menggeleng dan menjawab pendek “Bukan”
Ah mungkin namanya ia kurang tahu. Aku masih berusaha
”Sebentar mbak” aku menahan si mbak, ku ambil foto di dalam tas kecilku. “Ini mba Mr. Hobel dan istrinya”. Ini kediamannya mba “aku memperjelas dan menunjuk-nunjuk gambar di foto.
Sekali lagi ia malah menggeleng dan menjawab kata yang sama "Bukan”
Aku menggit bibir. Sedikit kecewa dengan hasil yang ku dapat. Kemungkinan mereka memang sudah pindah. Hiburku dalam hati. Lalu aku harus cari kemana jejak mereka? aku kembali berwajah sedih setelah mengucapkan terima kasih kepada mbak tadi aku pergi meniggalkan rumah yang bersembunyi di gerbang besar. Tanpa bisa melihat bentuknya.
****************************************************************************************************
Selagi menunggu bus datang. Aku membeli minuman kemasan. Kuteguk, sedikit peluhku tercairkan. Aku duduk di halte sambil memperhatikan lalu lalang orang.
"Siti humairaaa?"
Aku menegok-nengok asal muasal suara. Suara yang memanggil nama lengkapku. Lalu kudapati sosok pemuda dengan wajah yang ceria tersenyum kepadaku.
"Hai, dari mana? tanya sosok itu. Dia adala Fikran. Muhamad Fikran Bramantyo . Teman sekelasku. Seorang bintang basket disekolah. Jarang berbaur aku denganya karena ia cukup sibuk mengurus Osis dan ketua di organisasinya.
Aku tersenyum menanggapi keramahannya. "Habis dari rumah kerabat" jelasku cukup ringkas. Agar tidak ada pertanyaan lagi.
Mulut Fikran membentuk huruf o. "Panas sekali yah?" Fikran mengipas-ngipas kepalanya dengan map yang sedari tadi ia pegang.
"Kamu sendiri habis dari mana?" tanyaku sambil menyodorkan air mineral
Fikran mengambil air yang kuberikan, membuka segelnya lalu meminumnya sampai tuntas.
"Hufff haus sekali aku" jawabnya terkekeh. "Padahal tadi dikantor ayah aku sudah banyak minum" jelas Fikran
"Kantor? bukankah ini hari minggu?' tanyaku
"Iya kantor ayahku dikedutaan asing, jadi bila banyak kerjaan bisa sampai hari minggu. Apalagi bulan ini banyak sekali yang mengajukan Visa".
"Kedutaan asing?" tanyaku. Fikran mengangguk.
Aku melamun dan fikiranku berlalu lalang mengumpulkan potongan-potongan mozaik. Mr Hobel kan kerja di kedutaan pada saat itu. Seperti mendapat secercah cahaya.
"Fikran tolong antarkan aku kesana!" teriakku penuh semangat.
Fikran terdiam tidak mengerti
.........................................................................................................................................
KEDUTAAN BELANDA
"Siti humaira, memang apa yang kau cari disini" tanya Fikran tidak mengerti.
Kami berdua berdiri di bangunan yang sangat apik. Bergaya kolonial modern. Disisi kanan berdiri tiang berbendera Belanda dan sisi kirinya berkibar bendera merah dan putih.
"Tolong tanyakan ayahmu, apa ia mengenal Mr. Hobel"
Fikran hanya mengangguk padahal pertanyaanya tidak dijawab.
Fikran dan Aira berjalan melewati beberapa ruangan yang mulai kosong. Hanya segelintir manusia. Seorang sekuriti tersenyum saat berpapasan dengan Fikran. Lalu kami sampai disatu ruangan staff.
Tok..Tok...
Fikran mengetuk 2 kali. Kemudian seorang bapak paruh baya membuka pintu. Sudah kutebak beliau pasti ayah Fikran. Karena kegagahan mereka berdua sama persis.
"Ada apa Fik, berkas tadi ada yang kurang? tanya ayahnya langsung
Fikran menggeleng
" Ayah kenalkan ini teman sekelasku Siti Humaira"
Aku menjabat tangan ayah Fikran sambil menyapa " Siang om" ( yang seperti diajarkan Lila bila bertemu dengan orang tua teman di Kota Besar)
"Oh mau mengajukan program ke Belanda juga ?" tanya ayah Fikran sama ramahnya. Lalu menyuruh kami berdua duduk disofa.
"Tidak om..maaf mengganggu, ada yang saya ingin tanyakan. Apakah om mengenal Mr. Hobel ?
Ayah fikran mengernyitkan keningnya. "Mr hobel. siapa nama panjangnya?
Mr. Andrew Hobel.
Hmmm...Kening ayah fikran masih berkerut berusaha mengingat- ingat. Aku sangat berharap jawabanya adalah iya ingat dan mengenal dekat dengan Mr. Hobel.
"Sepertinya tidak "
Jawaban yang sangat bertentangan. Kembali wajahku bermuram durja
"Memang Mr. Andrew Hobel bekerja dikedutaan belanda?" tanya ayah fikran memastikan.
Yah ampun aku sampai lupa.!!!!! Pekikku dalam hati. Aku tidak tahu dikedutaan mana Mr. Hobel bekerja dan kurasa eyang Darmi juga tidak tahu. Dan yang tahu pasti hanya ibu...
Aku menggeleng lunglai ..
"Iya om saya kurang tahu dikedutaan mana"
"Apakah informasi mengenai Mr. hobel begitu penting?. Bila demikian akan om bantu menanyakan kepada teman- teman disini. siapa tahu ada yang mengenalnya. Tapi om tidak janji yah"
Setelah mengucapkan terima kasih banyak kepada Ayah Fikran dan berpamitan. Kamipun keluar dari kantor kedutaan Belanda. Kantor ayah Fikran.
"Fik terima kasih yah. Bantuanmu sungguh sangat berharga" ucapku tulus saat Fikran mengantarkan aku kembali ketempat halte tadi.
"Sama-sama Siti Humaira, walau aku tidak tahu alasannya" jawab Fikran
" Fik, panggil aku Aira saja" aku tertawa dengan panggilan yang lengkap tersebut.
Kami tertawa. "sampai bertemu besok disekolah yah Aira"
Aku mengangguk dan bergegas karena Bus yang ingin aku naiki sudah datang.
Bye Fik.
To Be Continue :) (Boleh banget tinggalin jejak koment dan kritik yahhhhh )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar