Mengungkap Tabir Mr.Lincon
Disini Aira mulai tergelitik ingin mengetahui keberadaan Ayah biologisnya. Sedikit lama-lama menjadi bukit keinginan itu terus mengganggu bathinnya.Dan Apakah Aira bisa sedikit mengungkap tabir Ayahnya? .Chek it out yaaaah sista *Maaf cuman dikit apdetnya hihihihi*
Namun sepertinya sangat tidak pantas bila itu kutanyakan kepada Bapak
apalagi Ibu.Itu sama saja akan mengorek luka lama Ibu. Aku tak mau membuatnya bersedih.
Jadi kuputuskan hanya menyimpannya di relung hati yang paling dalam.
Sewaktu libur sekolah semester kami sekeluarga pulang. Sedikit merasa gundah akupun bersepeda ke
kampung sebelah mengunjungi Adik eyang. Eyang Darmi. Usianya ternyata sudah
hampir 80 tahun namun fisiknya jangan ditanya. Eyang Darmi sosok wanita kampung
yang tangguh. Walau keriput melahap habis kecantikannya. Mata eyang Darmi masih
menyisakan sinar kehidupan yang kokoh.
“Eyangggg...panggilku ketika eyang
Darmi sedang membawa kayu bakar menuju ke rumahnya yang mungil.
“Ndoo.. “ panggilnya pelan kemudian menatapku dengan bias mata
berkaca-kaca, aku tahu pasti eyang Darmi merindukanku...
Ku kecup punggung tangannya dan memeluknya.
Ah semakin kecil saja eyang Darmi
dipelukanku Atau memang tubuhku yang berkembang pesat
Sosok eyang putri kutemukan pada diri eyang Darmi. Karena memang Ibunya Ibu
sudah lama tiada jauh sebelum aku terlahir. Jadi aku suka sekali menganggap
adiknya eyang ini sebagai pengganti neneku. Walau eyang Darmi punya beberapa
cucu. Aku termasuk yang paling
disayanginya. Sewaktu kecil aku selalu
ingin tidur dengannya sembari meminta eyang Darmi menarik-narik rambutku perlahan
untuk mencari telur kutu.
Aku suka sekali
“Ndoo...sudah makan?” Tanya eyang Darmi
yang sesekali melipat kain dan bajunya
“Sudah eyang...sudah ndak usah repot-repot” pintaku saat Eyang bergegas
membuatkanku minum .
Aku rindu sekali suasana rumah eyang Darmi. Sunyi sepi namun sahdu, Ah padahal
baru 6 bulan.
“Pasti lik marwan sedang tandur yah eyang?”
Eyang Darmi mengangguk
“Yangggg...hmmm..aku sedikit ragu untuk langsung menanyakanya
“Ada apa ndook...Eyang bertanya seraya duduk disampingku
Kuberanikan diri untuk menanyakannya
“Eyang...bagaimana rupa Bapak Lincon?
Sejenak kurasakan keterkejutan dari mata eyang Darmi. Mungkin ia takkan
menyangkah aku akan menanyakan perihal ayah biologisku
Hmmm...Kulihat eyang sedikit berfikir.
Aku tahu ingatan eyang Darmi setajam elang. Saat ini pasti eyang sedang mengumpulkan
potongan-potongan memori sewaktu ia bekerja mengajak ibuku 16 tahun silam.
“Ibu Bapakmu sudah menceritakan semuanya ndok? Tanya Eyang Darmi
Aku mengangguk
Kemudian Eyang menghela nafas panjang. Aku sedikit merasa bersalah. Seperti
Eyang akan memulai sesuatu yang berat
Iapun mulai berbicara dengan suara hampir berbisik.
“Bila mengingat kejadian itu Eyang tak kuassa menahan sakit ndo.
Bagaimanapun eyang jualah yang salah karena telah lalai menjaga Ibumu.Walau
pada akhirnya kami mensyukuri kehadiranmu.’’
“Mungkin memang itulah jalan kau ada didunia ini ...” Ungkap Eyang Darmi seraya
menatap mataku dengan pelupuk yang mulai berkaca-kaca
Ia melanjutkan dengan tetap bersuara lirih
“Dan kami bisa memilikimu seutuhnya.Walau kami menutup rapat-rapat perihal
kejadian itu lambat laun kaupun pasti bertanya-tanya akan dirimu..akan
perbedaan fisikmu..akan semua yang terjadi padamu”.
“Ibumu adalah wanita yang sangat berani bisa menceritakan semuanya .Walau
itu artinya mengorek luka hatinya sendiri. Luka yang sangat membuatnya terpuruk
sebagai wanita”.
“Dan Bapakmu Abdullah...dia lelaki yang luar biasa. Malah bisa menyayangimu
dengan sangat sempurna”.
“Tidak lupa kakaku..Eyang kakungmu ndok. Dia Bapak yang sangat bijak. Kemarahan
bukanlah jalan yang terbaik. Pada saat itu Ia menerimamu. Menjadi cucunya”
“Warga disinipun sama hebatnya. Sangat sedikit lingkungan yang menerima aib
tersebut. Mungkin karena Eyang kakungmu
orang yang baik..Ibumu..semuanya. Mereka
malah menjadi menyayangimu dan kaulah hadiah terindah dikampung kami”
Kemudian Eyang Darmi beranjak dari dipan yang kami duduki. Ia menuju
lemarinya yang ringkih..sama tuanya. Ia mengambil kotak disudut pojok
lemarinya. Sekotak kaleng bekas biskuit. Sepertinya itu harta karun eyang Darmi
“Eyang kakungmu selalu memintaku untuk menyimpannya dan kelak kau wajib
memilikinya. Benda ini tidak bisa diketahui Ibu Bapakmu. Karena kami
merahasiakannya. Untuk kebaikan kita bersama. Tadinya akan eyang beri setelah
kau berusia 20tahun ndo”.
Eyang Darmi membuka kotak dipangkuannya. Kotak hitam usang yg sudah agak
penyok disisi kananya. Isi didalamnya penuh kertas yang menguning, Perhiasan,
dan beberapa lembar foto
“Ndoo ini milikmu. Eyang sudah cukup menjaga ini. Sekarang kau berhak
memilikinya. Namun eyang mengingatkan agar jangan Ibu bapakmu mengetahui
perihal ini. Kau tahu sendiri ndo...ini adalah luka lama Ibumu dan juga luka Bapakmu. Jangan sampai mereka
mengetahuinya” eyang Darmi sedikit meremas tanganku
“Ini apa memang eyang?”
“Itu adalah benda pemberian Bu Ratna dan suaminya. Dan sedikit kenangan
dari Ayah kandungmu
Deg aku merasa linu dengan kata-kata ayah kandungku.
“Mereka ingin memilikimu ndoo...”
Perkataan eyang Darmi masih berputar bak 9 planet mengitari tata surya.
Padahal ini sudah tengah malam . Aku tidak berani menyalakan lampu pasti akan
ketahuan aku belum tidur. Mengendap-endap rasanya juga sulit. Aku takut bila membuka kaleng ini di rumah. Apalagi
ada Bapak dan Ibu. Rasanya jantung ini mau copot. Aku tak mau gegabah sesuai
janjiku kepada eyang Darmi
Ini adalah rahasia
Fyaaa nanggung....ntar kalo sdh tahu mr. Lincon mau mengakuinya ngga ya...reaksinya gmn ya? ...lanjutannya jgn lama2 :D
BalasHapus