Minggu, 27 Januari 2013

Bule From Yogya II



Masa-Masa Sekolah


Kami tinggal di rumah susun yang begitu padat penduduknya. Bapak memasukanku ke Sekolah Umum Negeri di daerah Jakarta Barat. Bayupun di masukan ke SMP Negeri tidak jauh dari sekolahku.

Ketika masa-masa kami baru pindah Ibu masih saja di hantui mimpi buruk. Menginjakkan kaki di Stasiun Jakarta Ibu langsung memegang erat tangan Bapak. Sedikit demi sedikit Ibu mulai terbiasa disini. Tapi yang masih belum hilang yaitu ketika sedang jalan-jalan kami menemukan laki-laki bule, Ibu bisa histeris menangis. Dengan sabar Bapak memeluk Ibu, dan tugas kami yaitu meminta maaf ke orang-orang sekitar.

“Mbak..mbak” Bisik Bayu di telingaku ketika kami sedang menenangkan Ibu

“Gimana kalau kita tinggal di luar negeri yang mukanya banyak seperti mbak yah?” tanya adikku polos

“ Walah, mimpi kamu de” aku tersenyum geli

“Wah mba gak ada yang ga mungkin!” debat adikku

“Bisa saja mba di jemput sama Bapak kandung mba yang londo, hayo kalau kaya gitu gimana”? lanjut Bayu.

Akupun terdiam, tidak ada di dalam keinginanku terbersit bertemu dengan Bapak kandungku, buatku itu tidak perlu ku fikirkan. Aku pun menjawab pertanyaannya

“Kalau ketemu?.....”

“Mba mau kabur” jawabku sembari menjulurkan lidahku

Adiku malah terkekeh

********************************************************************

Aku menahan nafas, fuih. Langkahku menuju ruangan kelas. Bersama Bapak kepala sekolahku yang baru, Pak Rahul Sitohang namanya. Yah inilah babak baru kehidupanku. Aku akan bersekolah disini, dan ini hari pertamaku bersekolah.

 Pertama bertemu dengan pak Sitohang bersama Bapak waktu itu, Beliau bertanya padaku ”hello, Siti..How are you” tanyanya dalam bahasa Inggris. Kamipun tersenyum, wah kalau di anter ibuku bisa berabe nih urusannya.

”Baik pak” jawabku dengan logat Jawa yang kental.

 


“Namaku Siti Khumairah Abdullah, panggil saja Aira”

“Aku pindahan dari Yogya”

Seluruh kelas menatapku bagai alien, mereka mungkin berfikir

Ngapain ada bule nyasar

Aku ditempatkan di kelas II-A , aku duduk dengan seorang anak perempuan yang mungil namanya Sriwati, dia sangat pendiam. Dan selalu saja gugup.

”hhh...A..A..Aira,kamu asli mana?” tanyanya takut-takut

“Asli yogya” jawabku ramah

“oh”

Tapi walau Sri anak yang pendiam, ia sangat baik kepadaku. Aku senang berteman dengannya.

Tak henti-hentinya satu sekolah berspekulasi dengan kedatanganku. Dari anak kelas satu sampai tiga ramai membicarakanku.

“Bule kere kali yah”

“Iyah ngapain juga,bule sekolah disini?”

“Atau jangan-jangan dia mau memasukan doktrin kristenisasi”

“Hus gak boleh seudzon!”

“Agama dia kan Islam loh,malah gue sering liat dia selalu shalat di musolah sekolah”

“Eh tapi pas pelajaran bahasa Inggris, kok dia gak bisa yah?”

“Bule kok Logatnya Jawa banget”???

Aku baru tahu, kalau ternyata sekolah di Jakarta sangat aneh, tidak seperti di kampungku, dan teman-temannya juga beragam. Tapi demi Bapak aku mau coba beradaptasi dengan keadaan ini. Aku maklum dengan perbedaan fisikku, maka dari itu aku gak mau musingin rumor-rumor yang ada.

Suatu ketika ada kejadian yang lucu dengan sekolah kami, di kelas II-G ada beberapa anak yang tidak menyenangkan buatku, karena sikap mereka menyebalkan.Gaya mereka sangat kekotaan, mereka sombong, padahal otaknya biasa ajah Habis berteman dengan mereka Jaka sembung bawa bakpia hehehe....

Pagi hari mereka berempat datang dengan rambut yang super eksentrik, full colour. yah rambut mereka berwarna pirang. Sudah jelas mereka langsung terkena hukuman, karena peraturannya memang tidak boleh Mereka beralasan kenapa aku boleh.Yah sebetulnya aku juga ingin mempunyai rambut hitam yang legam seperti Ibu, tetapi ternyata aku malah di anugerahi rambut ikal coklat kemerahan. Jadi pak kepala sekolah memberi perintah peraturan itu tidak berlaku untukku seorang.

 

Ada yang lebih ramai ketika aku jatuh hati pada seorang pemuda di kelas lain, dia adalah Sukro Hamid. Pemuda Madiun yang sangat rendah hati. Sederhana seperti Bapak. Inilah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dulu siy di kampung yah cuma cinta-cinta monyet dengan teman sepermainan.

Pada diri Sukrolah kutemukan sifat-sifat sahabatku di kampung,,

“Gila lo ra? Mimpi apa gue!!!! lo suka sukro..SUKRO BO!!!”

“Ya ampun ra,banyak kakak kelas kita yang keren-keren ngantri naksir lo”

“Eh lo malah kepincut Sukro, makhluk aneh di sekolah. Namanya ajah udah gak keren kayak kacang!“

Aku mendelik sadis ke sahabat kelasku Fika dan Lila. Sri tersenyum geli, dia tidak menghujatku malah bersedia membantuku itu karena Sukro masih saudara jauhnya, dan rumah mereka cuku dekat jaraknya.

Sepengetahuan Sri belum ada cewek yang dekat dengan Sukro. Fika dan Lila menyahut dengan kompak

”Ya iyalah...”

Kami bersahabat sangat dekat walaupun banyak perbedaan pada diri kami masing-masing, Fika dan Lila sama-sama anak yang suka ceplas ceplos. Tapi sikap mereka sangat tulus membantu keluguanku akan kota Jakarta. Membuat pola pikirku agak-agak modern tapi masih pada batas-batas yang positif.

Lila selalu merubah penampilanku agar tidak kampungan. Tetapi tetap saja hal  yang aku suka yaitu mengenakan  daster batik khas Yogya. Ketika mereka pertama kali bertemu dengan Ibuku, mereka sempat terheran-heran betapa kehidupanku sangat sederhana sekali. Ibuku sangat ramah kepada sahabat-sahabatku. Sahabatku merasa nyaman, karena walau aku bule tapi sangat pribumi. Jadi mereka merasa satu hati.

 

Akupun jauh dari kesan mewah. Bila sedang  jalan-jalan ke pusat perbelanjaan menemani mereka. Bajuku pasti itu-itu saja.Tapi tetap saja mereka tak bosan-bosannya mengagumi kulitku yang putih, mengagumi wajahku yang Indo. Rambutku yang panjang sebahu, bergelombang berwarna coklat. Mereka selalu menyebutku Hermione Granger, kata mereka sangat mirip. Dan mereka merasa bahagia bisa punya teman bule. Cuma sayang gak bisa bahasa Inggris.

Malah Sri yang sangat jago berbahasa itu. Debat Se SMA Jakarta saja dia juaranya.Tapi bila kita kerja kelompok di rumahku, Sri kularang berbicara keras-keras bahasa Inggris.

“Salam ajah buat Sukro yah Sri” Pintaku setelah usai belajar

Sri mengacungkan jempol, Fika dan Lila komat-kamit seperti orang berdoa.

“Egh..pingsan deh seluruh Cowok di sekolah kita” Erang Lila

“Gak tau la,,,” Timpal Fika

”Yang ada Pemakaman massal” lanjutnya dengan ekspresi melotot

Lila tertawa terbahak-bahak

Aku meninju pelan bahu dua sahabatku yang masih kontra dengan keputusanku menggebet Sukro.

Mereka berdua tetap tidak menyerah untuk mengagalkan cintaku pada sukro. Ada-ada saja ulah mereka. Dari mengenaliku cowok lain di sekolah yang menurut mereka super ganteng.Yah walau mukanya mirip Ada-ada saja ulah mereka,dari mengenaliku cowok lain di sekolah yang menurut mereka super ganteng.Yah walau mukanya mirip dengan artis yang lagi tenar di film mengejar matahari,tapi aku tetap ogah sama muka-muka yang kota.Mungkin sudah seleraku seperti itu, hmm tidak ada yang salah kan.

“Tapi gue Heran deh, Sukro itu Stupid apa idiot siy? tanya Fika dengan tetap kata-kata yang sadis

“Maksut kamu? Tanyaku dengan Sabar walau dalam hati gak terima Sukro di kasih 2 option yang sama-sama jelek

“Lo cewek paling tenar tahun ini, dari Kepsek, Guru-guru, Kaka kelas and adik kelas Ramai-ramai beritain lo, istilahnya hal kecil kayak ngomong Jawa lo jadi tren banget apalagi gaya baju lo kalo acara sekolah pake dress batik, wah besok langsung deh rapat-rapat pake batik.Gaya rambut lo dipotong 1 hari kemudian cewek-cewek ikut potongan lo,Kriting ikalah,kuncir kuda gaya lo lah..SITI KHUMAIRAH ABDULLAH STUDENTS OF THE YEARS..."

"Tapi si kutu kupret Sukro flat alias cuek-cuek bebek nungging ajah tuh anak. Nanggepin kek sinyal-sinyal rasa suka lo, atau ngomong apa kek..greget deh gue....” jelas Fika berapi-rapi

“Lah yang pengen jadi ceweknya siapa siy?”Tanyaku dengan muka malaikat

“Yang pasti bukan gue” timpal Lila

“Tenang ajah ra,gue masih normal kok”Fika memperjelas

Lagi-lagi aku cuma mencubit kedua pipi sahabatku yang reseh, habis aku sayang mereka. Aku gak bisa marah sama sifat mereka wajar juga sebagai teman saling menasihati apalagi memberi masukan agar kita tidak salah memilih.

 

Tapi aku tetap anak yang keras kepala. Menurutku Sukro beda dengan pemuda-pemuda lain yang selalu mencari perhatianku. Sukro selalu tampil apa adanya,jauh dari hingar bingar pemuda kota yang sedang mencari jati diri.Apalagi dia anak musolahan banget wajar karena dia adalah ketua Rohis. Bapak selalu menasihati untuk aku mencari pria yang imannya sangat kuat, wah cocok sekali dengan Sukro.

 Buatku fisik urusan kedua atau ketiga. Asal kuat ibadah kepada sang khalik buatku itu yang penting.Tapi betul kata Fika kenapa Sukro lurus-lurus saja. Dingin menanggapi salam dan perhatian aku sama dia. Bila bertemu satu buspun Sukro cuma senyum. Kami memang beda kelas.Tapi kurang apa lagi Sri membujuk Sukro untuk dekat denganku.

Hmm aku siy gak neko-neko, hanya bisa bersama dia aja cukup. Gak perlu tuh malam mingguan atau berdua-duan soalnya kata eyang khan itu berbahaya hehhehe...

Tapi gak ada tanda-tanda Sukro bales perasaan aku deh. Fuih aku melangkah dengan gontai, gak tau apa salah ku yah? .

Sri dengan muka menyesal meminta maaf padaku.

“Aira,you are beautiful girl..i think Sukro Cuma merasa ini waktu yang kurang tepat berdekatan."

“Tugas kita sekarang adalah belajar,berbakti,mengejar impian kita”.

“Memang mimpimu apa Aira?” tanya Sri penuh kata-kata bijak

 

Hmmm...aku berfikir keras tak kusangkah Sri akan menanyakan hal yang sederhana tapi sulit ku jawab.Yah selama ini aku belum mengetahui apa cita-cita  dan mimpiku?. Selama ini  hidupku begitu indah. Bisa hidup bersama Ibu,bapak, dan Bayu tanpa gesekan konflik. Bahagia bisa bersama mereka. Hidupun berkecukupan. Walau tidak mewah tapi aku bahagia. Jadi apa mimpiku???...mungkin aku bermimpi agar bisa terus seperti ini dan.....

 

Dan sedikit keinginan mengetahui Bapak kandungku...Mr.Lincon

 

 

 

 

 

3 komentar:

  1. bagus vie,,,di bab awal hrs 2-3 bc pas si ibu pingsan,trus lgsg ada si bayu sang adik yg nolongin ibu yg nangis krn ktm bule.blm ngeh jg kl "aku" jg bule,,,,*lemot.com*
    well,btw aku sukaaa~~ jd inget jmn sma dulu...hihihii

    BalasHapus
  2. Bagus fya....btw ejaan dikit diperhatiin ama kalo spasi setelah tanda baca...hehehe. oya ama "SITI KHUMAIRAH ABDULLAH STUDENTS IN THE YEARS" agak ga ngeh ngartiinnya....apa kudunya "SITI KHUMAIRAH ABDULLAH STUDENT OF THE YEAR"-->SITI KHUMAIRAH ABDULLAH ADALAH MURID TAHUN INI (paling populer gt) ;D... Yaak lanjutkan bu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah aku edit untuk beberafa kesalahannya
      Muakasih yah mom masukannya *Feyuuuuk* :)

      Hapus